Dalam kehidupan ini, ada tingkat level ekonomi seseorang, seperti orang kaya, orang sederhana atau sedang-sedang saja, dan orang miskin. Di samping itu, kita boleh memberikan bantuan kepada orang miskin, entah dari segi uang atau benda dan barang yang lainnya. Namun, dibalik itu kita jangan terlalu berlebihan dalam memberikan bantuan kepada orang-orang miskin, termasuk juga teman sendiri yang lagi kekurangan.
Saya pernah mengalami hal seperti itu, memberikan bantuan pada teman saya sendiri yang miskin secara berlebihan. Akhirnya, teman saya minta terus-terusan ke saya dan selalu mengikuti saya. Di dalam agama islam, sesuatu yang berlebihan itu tidak boleh. Boleh-boleh saja memberikan bantuan pada yang miskin, tapi ada aturannya yang sesuai dengan agama.
Saya pernah mengalami pengalaman buruk hal seperti itu. Awalnya, sejak saya masih SD duduk satu bangku dengan teman saya. Awal mulanya mengobrol biasa saja dan sejak teman saya utang ke saya, lalu dia bayar tepat waktu. Setelah itu, sedang lagi musim mobil tamiya. Dia menawarkan ke saya, untuk membelikan mobil mainan tersebut, saya terima saja tanpa liat harga sebenarnya berapa. Maklum masih polos waktu masih SD, tidak mengerti apa-apa.
Saya memberikan uang ke teman saya untuk membelikan mobil mainan kepada saya, waktu itu harganya 20 ribu. Saya masih ingat. Setelah itu, dia menawarkannya lagi ke saya untuk membelikan baterai cas dengan harga 30 ribu. Namun saya pernah selidiki ke pasar sendiri, harga asli baterainya adalah 10 ribu, berarti dia untung 20 ribu. Maklum, saya masih kecil jadi tidak tahu atau tidak mengerti apa-apa yang penting beres saja.
Setelah itu lama-lama dia menjadi terbiasa, sehingga waktu piknik SD sebagai acara perpisahan, dia minta biaya dari saya. Saat lulus dari SD, Saya lanjut ke sekolah menegah pertama atau SMP. Begitu penataan murid-murid pada masa orientasi siswa, eh secara tidak sengaja dia satu kelas lagi sama saya. Di sini mulai aksinya, uang saya diperas oleh teman saya terus-terusan. Mau makan di kantin saja minta dari saya, terus juga minta ini dan itu.
Cerita singkat saja, waktu saya kelas 1 SMP, dia menawari saya untuk ikut arisan tapi sampai sekarang saya tidak dapat apa-apa. Kalau di jelaskan ceritanya panjang. Setelah itu, dia menawari saya buat patungan beli gitar, tapi katanya gitarnya ada di rumahnya, sampai sekarang tidak jelas ada atau tidaknya barangnya. Waktu kelas 2 SMP, saya di kasih cewek cantik oleh dia bernama indah, tapi orangnya tidak ada atau tidak jelas, malah saya di peras terus oleh dia, katanya sih buat biaya berobat si cewek itu. Tapi sampai sekarang saya belum pernah lihat wajahnya sama sekali, aneh dan parah ya.
Pada waktu praktik olahraga renang, dia minta uang ke saya buat bayar masuknya. Terus juga pada saat saya mengikuti praktik renang, dia pengen ikut lalu minta dibayari masuknya. Padahal waktu kelas 2 SMP, sudah beda kelas, tidak bareng lagi, Masa bisa begitu. Aneh kan kalau di pikir-pikir secara logika.
Setiap di sekolah, teman saya meminta uang saya terus secara terus-terusan. Bikin menyiksa saya dan tekanan batin pada waktu itu. Setelah saya lulus SMP, dia sebenarnya pengen ikut saya terus, tapi untungnya tidak bisa, karena dia tidak punya biaya untuk melanjutkan jenjang sekolah yang lebih tinggi lagi. Kalau pun dia punya biaya juga, tidak mungkin bisa bersama saya lagi, karena daftar ke SMA kan sudah nyebar-nyebar, tidak mungkin sama. Sebenarnya masih banyak lagi ceritanya, saya hanya ingat yang itu saja.
Jadi kesimpulannya, boleh saja membantu pada siapa saja termasuk teman yang miskin. Tapi tidak boleh berlebihan karena lama-lama bisa rugi juga. Ternyata benar ajaran agama islam itu, sesuatu yang berlebihan itu tidak boleh. Itulah pengalaman berharga saya buat jadi pelajaran. Maklum saja pada waktu itu saya masih polos, tidak mengerti apa-apa.

Komentar
Posting Komentar