Tak terkata sedih hati Nona Putri 19 tahun karena ia tidak bisa masuk perguruan tinggi negeri di daerahnya. Padahal, ia sudah berusaha keras belajar agar bisa lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri tersebut. Bukan karena ia tidak pandai, tetapi karena biaya kuliahnya tak terjangkau oleh kedua orangtuanya, sampai cita-citanya terputus di tengah jalan. Ia tidak bisa memaksa karena kasihan kepada ayah ibunya.
Sejak kecil, ia selalu rajin belajar. Hasilnya, sejak SD sampai SMA, ia berhasil masuk sekolah negeri. Terakhir, ia menjadi peserta didik salah satu SMA negeri favorit di daerahnya. Alhasil, ia menjadi putri kebanggaan orangtuanya.
"Saya mendapat informasi katanya universitas negeri di daerah akan menerima mahasiswa baru dengan beasiswa. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk meraih beasiswa itu, tetapi tidak berhasil. Saya lulus dalam seleksi itu, tetapi tidak termasuk yang mendapat beasiswa,"
Ayah saya bekerja serabutan, jadi penghasilannya tidak tetap. Sementara itu, ibu seorang ibu rumah tangga biasa yang tinggal di rumah mengurus keluarga. Beliau berdua sudah gembira karena saya bisa lulus seleksi. Akan tetapi, ternyata jatah beasiswa hanya terbatas untuk sejumlah mahasiswa baru. Bahkan, bukan di perguruan tinggi negeri yang itu saja. "Saya juga lulus seleksi dari perguruan tinggi lain. Tetapi yang ini pun tidak bisa saya masuki karena terkendala uang masuknya yang teramat mahal, bagi orangtua saya," katanya.
Ibunya sudah berusaha mendaftarkan putrinya dengan jalur bidik misi, tetapi itu pun gagal. Saat ibunya berusaha mencari uang kemana-mana, batas akhir daftar ulang sudah sangat dekat. Ternyata harapan mereka putus sudah ketika batas akhir itu sudah terlalui. Namun, ibunya masih berusaha, ia minta penangguhan pembayaran itu. Namun, tak ada kabarnya lagi yang sampai pada pengasuh. Entah bagaimana. Uang daftar ulang itu harus dibayar sekaligus, tidak bisa dicicil. Ia juga memohon agar bisa memberi uang muka dulu, nanti akan terus mencari pertolongan, tetapi tidak bisa. Putuslah harapan gadis ini untuk meneruskan pendidikkannya ke perguruan tinggi.
Padahal, dalam diri Putri tersemat cita-cita ingin menjadi sarjana dan kelak mendapat pekerjaan yang layak. Ia ingin membantu kedua orangtuanya yang selama ini hidup dalam kekurangan. Bahkan, mereka masih tinggal di rumah orangtua ibunya. Ingin sekali ia membahagiakan ibu dan ayahnya.
Ia juga ingin membantu ayahnya menyekolahkan adik-adiknya. Mereka bersekolah di SLTA dan SD. Namun, rupanya tanpa uang sejumlah yang ditetapkan perguruan tinggi itu, ia belum bisa menginjak bangku perguruan tinggi. Ia masih sangat berharap bisa masuk tahun ini. Ibunya yakin Putri akan berhasil dalam kuliahnya karena ia terbiasa belajar giat dan tekun serta disiplin. Namun, apa daya, uang jutaan rupiah itu tak terjangkau oleh mereka. Mereka bagaikan tengah menanti harapan, apakah akan terwujud?
Kedua orangtuanya tidak berhenti memohon kepada Tuhan agar mendapat pertolongan untuk biaya kuliah anaknya. Kedua orangtuanya sedih sekali melihat semangat anaknya yang menggebu dan kerja kerasnya mencapai cita-cita harus gagal karena tidak memiliki biaya. "Ya Tuhan, tolonglah kami," katanya.

Komentar
Posting Komentar