Langsung ke konten utama

Cerita penggali kubur yang termakan doanya sendiri

Setiap ucapan itu doa, apa pun ucapan itu pasti terjadi bila tuhan menghendaki. Setiap manusia pasti berdoa pada tuhannya menurut kepercayaan masing-masing. Tapi bila doa ucapannya salah atau pun benar, pasti terjadi secara tiba-tiba atau dengan waktu yang lama. Berikut ini cerita dari si Tukang Penggali Kubur yang termakan doanya sendiri karena ingin mendapatkan rezeki.

Gunawan segala-galanya bagi keluarga. Ia memikul tanggung jawab untuk enam kepala sekaligus, istri, dua orang anak, serta seorang adik yang ikut bernaung di bawah payung kasih sayangnya. Terlahir sebagai anak tukang becak tak banyak memberi keuntungan bagi hidup Gunawan. Orangtuanya mangkat tanpa mewariskan harta selain rombengan. Malah, kepergian mereka berbuntut utang dengan beberapa orang jiran yang kini menjadi tugas Gunawan untuk melunasinya. Hanya berbekal ijazah SMP, tanpa keahlian kerja yang bergengsi, Gunawasn menjemput rizki dengan menjadi tukang gali kubur.

Telah tujuh tahun lebih ia melakoni pekerjaan sebagai penggali kubur. Sejak rambutnya masih legam hingga sekarang mulai ditumbuhi uban. Telah beratus-ratus liang ia persembahkan untuk mayit-mayit. Telah banyak kesan yang ia dapatkan selama menjalaninya. Di bawah terik surya atau tikam air hujan, ia mengayun pacul. Berkat ayunan paculnya itu pula, ia bisa memiliki otot bisep yang padat menggelembung.

Namun, sepanjang masa bakti Gunawan, penghasilan yang didapat tidak bisa membuat strata sosialnya beranjak naik. Tidak seperti direktur bank, dokter, arsitek, pilot, atau pengusaha batu bara yang bisa hidup enak dari gaji, duduk di kursi putar, menyeberang benua, dan punya tabungan persiapan hari tua. Nilai upah Gunawan hampir tidak pernah berubah dari masa ke masa. Pekerjaannya tidak mengenal standar upah resmi dari pemerintah. Tiap satu lubang, keringatnya hanya dihargai seratus ribu rupiah. Itu pun, tidak bisa terima rutin karena belum tentu setiap hari ada orang wafat dan dikuburkan di pemakaman tempat ia bekerja.

Berat beban menggali kubur, lebih berat  lagi mendengar omelan sang istri, Farida. Dulu, semasa lajang, ia mengenal Farida sebagai wanita pemalu yang tidak banyak cincong. Gunawan jatuh cinta karena Farida tidak kelihatan seperti wanita-wanita lain yang banyak maunya. Tetapi, tiga bulan setelah ia menghalalkannya, Farida menunjukkan perubahan drastis. Dia menjelma menjadi  wanita nyinyir dan tidak sabaran. Saban hari yang dibicarakan tak jauh-jauh dari duit, duit, dan duit. Kapan ada duit? Kapan nambah uang belanja? Kapan utang di warung akan dilunasi? Kapan bayar tunggakan listrik? Kapan, kapan, dan kapan?

Gunawan kejang batin. Kalau marah isterinya bangkit, ia hanya mengatakan, "sabarlah, bojo-ku. Moga-moga banyak orang mati dan dimakamkan di tempatku bekerja. Jadi aku bisa bawa pulang uang banyak untukmu."

Farida lantas berpikir apa yang dikatakan Gunawan ada benarnya. Dia menyimpulkan, "Makin banyak yang mati, makin banyak uang yang kudapat dari suamiku."

Sejak saat itu, setiap hari mereka berdoa agar musim kematian segera tiba. Gunawan yang paling rajin berdoa dan menjadikannya suatu kebiasaan. Dia selalu mendoakan para jompo di kampung mereka agar lekas tutup usia. Sebagai kepala keluarga, ia bahkan mengajarkan anak-anaknya untuk mendoakan yang sama.

Miranti, anak sulungnya yang berumur enam tahun, dengan kepolosan seorang bocah pernah bertanya, "Kenapa kita harus mendoakan nini-nini dan aki-aki cepat mati, Pak?'

"Karena mereka sudah tua. Yang tua, pasti akan cepat mati," jawab Gunawan enteng. Miranti semakin yakin pada jawaban sang ayah ketika sang ibu ikut membenarkan.

Musim kematian yang dinantikan datang juga. Dalam beberapa bulan terakhir, memang banyak saja yang meninggal dunia. Sebagian besar menimpa orang-orang yang sudah lanjut usia. Perkaranya beragam, tapi lebih banyak karena menderita sakit tua. Bagi Gunawan, kematian mereka semacam doa yang dikabulkan. Berkah yang melimpahi para tukang gali kubur. Dalam sehari ia bersama kawan-kawan sejawat mendapat pesanan menggali empat hingga lima liang. Gunawan senang. Kalikan sendiri berapa rupiah yang bisa ia kantongi.

Musim kematian memberi dampak besar bagi kehidupan rumah tangga Gunawan. Dari penghasilan yang didapat, sedikit demi sedikit mereka bisa mencicil utang dan membeli kebutuhan yang sempat tertunda. Kondisi batin Gunawan juga membaik seiring Farida mulai tidak marah-marah lagi. Setiap pulang dari makam, ia disambut senyum manis sang istri yang berpoles gincu sirah, secerek teh manis dingin, dan sepiring singkong goreng. Ternyata, uang bisa jadi obat mujarab untuk mengobati istri yang suka ngomel-ngomel.

Gunawan makin gencar mendoakan agar orang-orang cepat mati. Tiap ada orangtua yang sakit-sakitan, ia datang menjenguk dan diam-diam mendoakan agar ajal segera datang menjemput. Lama-lama, Gunawan mulai tidak terkendali. Selain senang bila banyak jompo yang mati, dia juga merasa berkat doanya para jompo terbebas dari beban penderitaan di hari tua. Menurut Gunawan, makin senja usia, makin banyak yang tidak dapat dilakukan oleh mereka selain menatap hampa hari-hari panjang di atas kursi roda dan ranjang. Anak-anak mereka juga tidak perlu repot dan makan hati karena lelah mengurus terlalu lama.

Namun, suatu hari yang tidak terduga, Gunawan dihantam telak oleh sebuah berita berdarah. Malam itu, ia duduk di teras menunggu istri dan kedua anaknya pulang dari kenduri di kampung sebelah. Dia tidak punya firasat apa-apa sebelum beberapa orang warga datang membuat batinnya jadi berombak. Mereka bilang, angkot yang ditumpangi Farida dan anak-anaknya mengalami kecelakaan. Mobil terguling masuk jurang dan meledak. Tidak ada yang selamat. Semua tewas terpanggang. Gunawan tergemap. Kabar itu membuat seluruh energi di dalam tubuhnya musnah. Ia rubuh. 

Keesokan hari, di hadapan Gunawan berjejer tiga mayit dalam berbagai tingkat usia, tapi tak satu pun dari ketiganya sempat menyentuh usia senja. Mereka mati muda, menjadi bagian dari musim kematian. Menjadi rezeki yang ditunggu-tunggu para penggali kubur lain selain Gunawan.

Gunawan menyadari bahwa ajal itu buta dan menyesali doa-doanya. Ajal tak pernah mengenal batas usia. Dia bisa merapat kapan saja tanpa harus ada yang meminta. Di hari itu juga, Gunawan ikut mengeruk tiga lubang untuk mereka bertiga. Bedanya, kali ini jelas tidak ada kesenangan di dalamnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Tujuan hidup manusia di dunia ini

Allah telah menciptakan makhluk hidup di muka bumi ini, seperti manusia, hewan, dan tumbuhan. Khususnya manusia yang ada d bumi yang telah menyebar luas dengan berbagai suku, kelompok, adat, dan budaya masing-masing. Awal mulainya kehidupan di bumi muncul, Allah menciptakan tumbuh-tumbuhan dulu yang menyebar ke seluruh belahan dunia. Setelah itu, allah menciptakan hewan-hewan dengan tujuan untuk menciptakan rantai makanan di bumi ini agar seimbang. Kemudian, Allah menciptakan nabi adam, manusia pertama yang mengijak kakinya di bumi ini. Dari jaman nabi adam hingga sekarang ini, sudah mulai banyak keturunan yang menyebar di seluruh kawasan bumi ini. Bumi kita yang injak ini, sudah mulai banyak perubahan dari jaman dulu hingga sekarang. Entah karena perubahan iklim di bumi atau ulah manusia yang merusak alam sekitar, hingga banyak kejadian alam yang muncul. Mungkin karena bumi sudah semakin tua, hingga banyak sekali kejadian alam yang aneh dan mengerikan. Lalu, untuk apakah tu...

Janganlah senang dulu saat merayakan ulang tahun

Merayakan hari ulang tahun sangat menyenangkan apalagi bersama pacar, teman-teman, atau pun saudara. Ulang tahun adalah momen-momen yang membuat orang bahagia, apalagi diberi hadiah ulang tahun oleh orang-orang yang tercinta. Khususnya jika ulang tahun dirayakan bersama pasangan atau pacar, pasti sangat menyenangkan dan bahagia. Begitulah kalau momen spesial acara ulang tahun pada kehidupan manusia di dunia. Tapi, janganlah senang dulu jika merayakan acara ulang tahun. Karena umur manusia semakin bertambah semakin dekat pula dengan kematian. Umur manusia memang ada batasnya, tak tahu kapan ajal menjemput kita, hanya tuhan yang tahu. Semakin bertambah umur manusia semakin tua pula, sedikit-demi sedikit wajah akan keriputan dan semakin tua, itu karena proses penuaan dan metabolisme tubuh. Sering begadang, merokok juga dapat menyebabkan umur semakin pendek. Umur manusia ada tahapannya, mulai dari bayi yang keluar dari perut ibu, masa anak-anak, ABG, masa remaja, dewasa, dan m...

Cerita sedih seorang ingin kuliah tapi terkendala

Tak terkata sedih hati Nona Putri 19 tahun karena ia tidak bisa masuk perguruan tinggi negeri di daerahnya. Padahal, ia sudah berusaha keras belajar agar bisa lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri tersebut. Bukan karena ia tidak pandai, tetapi karena biaya kuliahnya tak terjangkau oleh kedua orangtuanya, sampai cita-citanya terputus di tengah jalan. Ia tidak bisa memaksa karena kasihan kepada ayah ibunya. Sejak kecil, ia selalu rajin belajar. Hasilnya, sejak SD sampai SMA, ia berhasil masuk sekolah negeri. Terakhir, ia menjadi peserta didik salah satu SMA negeri favorit di daerahnya. Alhasil, ia menjadi putri kebanggaan orangtuanya. "Saya mendapat informasi katanya universitas negeri di daerah akan menerima mahasiswa baru dengan beasiswa. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk meraih beasiswa itu, tetapi tidak berhasil. Saya lulus dalam seleksi itu, tetapi tidak termasuk yang mendapat beasiswa," Ayah saya bekerja serabutan, jadi pen...