Langsung ke konten utama

Cerita pasangan yang menikah tanpa pacaran

Cerita ini dari curahan hati seseorang yang menikah tanpa pacaran atau kencan terlebih dahulu.

MenikahDia merasa berdiri di antara dua pilihan yang sama beratnya. Ia tidak bisa memilih karena masing-masing punya kebaikan dan keburukan baginya. "Saya hanya ingin berbagi cerita, bukan berharap tanggapan," ujarnya membuka curahan hatinya yang katanya sudah lama dipendamnya. "Antara kebahagiaan anak-anak dan kesenangan diri sendiri, seperti tarik-menarik. Sudah terlalu lama rasanya saya menelan perasaan ini. Akan tetapi, rasa kasihan juga membuat saya harus menyingkirkan egoisme ini.

Saya menikah di usia relatif muda, bahkan terlalu muda. Dalam keluarga besar kami, masih berlaku adat menikahkan anak antar kerabat. Tak pernah ada protes. Kebetulan, semua baik-baik saja. Bila tidak karena maut menjemput tidak pernah ada pasangan yang bercerai. Semakin percayalah kami akan bagusnya pernikahan antar kerabat itu. Sampai kepada saya. Kami dinikahkan tanpa ada rasa cinta sama sekali. Seperti yang lain, kami pun baik-baik saja.

"Semua orang menyebut istri saya sangat baik. Dia sabar, ibu rumah tangga yang betah di rumah. Belum lagi seabrek ujian ditujukan kepadanya. Ia pandai memasak, rajin memelihara tanaman, piawai menata rumah, jempolan membuat kue, dan lainnya. Akan tetapi, saya tidak melihat letak romantisnya. Susah sekali ia bereaksi pada apa yang terjadi. Misalnya, bila saya ditugaskan kantor di luar kota untuk waktu yang lama, ia tidak memperlihatkan rasa rindunya. Begitu pula bila saya membelikan sesuatu, tidak pernah tampak gembira," katanya pula.

"Iri rasanya bila melihat istri tetangga yang berjingkrak-jingkrak dibelikan tas baru yang ia idamkan. Atau ia merengek minta diajak jalan-jalan. Karena kebetulan suami tetangga itu teman sekantor, kalau ia keluar kota, istrinya sering sekali menelepon atau SMS-an. Istri saya, sepatah kata pun tidak bertanya. Gaji dalam amplop yang saya simpan, tetap di meja. Setelah tiga hari baru ia simpan.

Bahkan, waktu ditelepon pun, jawabannya hanya "baik" dan "iyah". Saya bertanya dalam hati apakah ia tidak mencintai saya? Kami memang menikah tanpa pacaran, tetapi setelah menjadi suami istri, saya berusaha mencintainya. Kelahiran anak-anak adalah anugerah, walau menikah tanpa cinta.

Kerinduan untuk mendapatkan kehangatan terkabul juga, tetapi bukan dari istri saya. Dan itu tidak disengaja. Suatu ketika saya mendapat semacam voucher, dari seorang rekan. Akan tetapi, karena merasa tidak membutuhkannya saya berikan pada anak buah. Ia berjingkrak-jingkrak gembira. Ucapan terima kasihnya tidak hanya sekali.

"Di lain waktu, ia membeli keperluan kantor. Kembaliannya saya berikan padanya. Wajahnya ceria. Esoknya ia membeli baju baru. Katanya uang kembalian itu ia belikan baju. Ini bajunya saya pakai Pak, katanya. Saya jadi memperhatikannya. Waktu saya dinas luar, ia SMS," katanya pula.

"Tak hanya sekali, ia memperhatikan saya, pertanyaannya sederhana, tetapi dalam. Misalnya, Pak, selamat di jalan? Pak sudah makan? Pak kenapa pucat, sakit? Lama-lama ada perasaan sayang dalam hati. Apalagi setelah tahu bahwa ia bercerai karena tidak punya anak. Suaminya menikahi gadis lain, alasannya karena ingin punya anak. Ia memilih hidup sendiri, daripada dimadu. Saya sering menggoda istri, agar ia mau sedikit romantis. Tetapi mala menepis, katanya gombal, kaya di film," katanya.

Dengan teman sekerjalah saya mendapatkan kebahagiaan. Istri saya ibu rumah tangga yang baik. Perhatiannya penuh pada pengabdian untuk keluarga. Tetapi saya butuh kehangatan, tetapi saya tidak berani mengutarakannya. Akhirnya, saya berterus terus terang pada teman sekerja bahwa mencintainya. Ia malah minta pindah bagian ke kantor lain. Katanya, sabarlah. Kalau ganti istri juga, masalahnya akan sama, lama-lama mendapat cobaan, walau bentuknya lain. Tidak semua cinta harus diakhiri dengan saling memiliki. Akhirnya, saya mendapat pengabdian istri dan kehangatan darinya, walau hanya melalui SMS," katanya. Mengakhiri curahan hatinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Tujuan hidup manusia di dunia ini

Allah telah menciptakan makhluk hidup di muka bumi ini, seperti manusia, hewan, dan tumbuhan. Khususnya manusia yang ada d bumi yang telah menyebar luas dengan berbagai suku, kelompok, adat, dan budaya masing-masing. Awal mulainya kehidupan di bumi muncul, Allah menciptakan tumbuh-tumbuhan dulu yang menyebar ke seluruh belahan dunia. Setelah itu, allah menciptakan hewan-hewan dengan tujuan untuk menciptakan rantai makanan di bumi ini agar seimbang. Kemudian, Allah menciptakan nabi adam, manusia pertama yang mengijak kakinya di bumi ini. Dari jaman nabi adam hingga sekarang ini, sudah mulai banyak keturunan yang menyebar di seluruh kawasan bumi ini. Bumi kita yang injak ini, sudah mulai banyak perubahan dari jaman dulu hingga sekarang. Entah karena perubahan iklim di bumi atau ulah manusia yang merusak alam sekitar, hingga banyak kejadian alam yang muncul. Mungkin karena bumi sudah semakin tua, hingga banyak sekali kejadian alam yang aneh dan mengerikan. Lalu, untuk apakah tu...

Janganlah senang dulu saat merayakan ulang tahun

Merayakan hari ulang tahun sangat menyenangkan apalagi bersama pacar, teman-teman, atau pun saudara. Ulang tahun adalah momen-momen yang membuat orang bahagia, apalagi diberi hadiah ulang tahun oleh orang-orang yang tercinta. Khususnya jika ulang tahun dirayakan bersama pasangan atau pacar, pasti sangat menyenangkan dan bahagia. Begitulah kalau momen spesial acara ulang tahun pada kehidupan manusia di dunia. Tapi, janganlah senang dulu jika merayakan acara ulang tahun. Karena umur manusia semakin bertambah semakin dekat pula dengan kematian. Umur manusia memang ada batasnya, tak tahu kapan ajal menjemput kita, hanya tuhan yang tahu. Semakin bertambah umur manusia semakin tua pula, sedikit-demi sedikit wajah akan keriputan dan semakin tua, itu karena proses penuaan dan metabolisme tubuh. Sering begadang, merokok juga dapat menyebabkan umur semakin pendek. Umur manusia ada tahapannya, mulai dari bayi yang keluar dari perut ibu, masa anak-anak, ABG, masa remaja, dewasa, dan m...

Cerita sedih seorang ingin kuliah tapi terkendala

Tak terkata sedih hati Nona Putri 19 tahun karena ia tidak bisa masuk perguruan tinggi negeri di daerahnya. Padahal, ia sudah berusaha keras belajar agar bisa lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri tersebut. Bukan karena ia tidak pandai, tetapi karena biaya kuliahnya tak terjangkau oleh kedua orangtuanya, sampai cita-citanya terputus di tengah jalan. Ia tidak bisa memaksa karena kasihan kepada ayah ibunya. Sejak kecil, ia selalu rajin belajar. Hasilnya, sejak SD sampai SMA, ia berhasil masuk sekolah negeri. Terakhir, ia menjadi peserta didik salah satu SMA negeri favorit di daerahnya. Alhasil, ia menjadi putri kebanggaan orangtuanya. "Saya mendapat informasi katanya universitas negeri di daerah akan menerima mahasiswa baru dengan beasiswa. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk meraih beasiswa itu, tetapi tidak berhasil. Saya lulus dalam seleksi itu, tetapi tidak termasuk yang mendapat beasiswa," Ayah saya bekerja serabutan, jadi pen...