Langsung ke konten utama

Cerita kasih tergoyah pada rumah tangga

Kasih tergoyah
Demi anak-anak tercinta, Nyonya Kemuning, 49 tahun, ingin mempertahankan rumah tangganya. Ia ingin hidup rukun kembali seperti dulu. Saya ingin membangun kembali rumah tangga, seperti sedia kala. Namun, rupanya belum demikian dengan suaminya. Cobaan yang datang ke dalam rumah tangga mereka tak terhindarkan. Akibatnya, saya merasa sangat menderita. Saya selalu berharap semua akan segera berakhir.

Saya mengarungi bahtera rumah tangga dengan suami sudah lebih dari tujuh belas tahun. Kami dikaruniai anak-anak yang sehat dan pintar. Kami hidup bahagia sebagaimana layaknya orang berumah tangga. Tak pernah ada gejolak dalam rumah tangga kami, sampai waktu itu. Ekonomi keluarga pun cukup terjamin karena kami berdua sama-sama bekerja mencari ilmu. Suasana cukup harmonis.

Sampai pada suatu ketika, suami saya bilang akan mengadakan pertemuan temu kangen dengan teman-teman sekolahnya semasa dulu. Saya anggap itu hal biasa. Banyak teman-teman saya yang sering mengadakannya, tak pernah terjadi apa-apa. Itu masa lalu. Bertemu teman lama dengan teman-teman masa lalu memang menyenangkan. Akan tetapi, tidak demikian dengan suami saya. Setelah reunian itu, ada buntutnya. Ia jadi sering bertelepon dengan seorang teman wanitanya. Mulanya saya anggap biasa. Tetapi lama-lama mereka keterusan. Bila sudah saling teleponan, tidak mengenal waktu. Bahkan kurang menghargai saya, istrinya.

Saya manusia biasa, yang tidak terlepas dari keterbatasan. Kesabaran saya habis waktu mereka terus-terusan bertelepon. Akhirnya, mulailah terjadi perselisihan. Mulanya hanya pertengkaran kecil, lama-lama semakin menjadi-jadi. Pertengkaran dipicu pula oleh kejadian yang menimpa salah seorang anak saya. Ia nyaris gagal di sekolahnya. Saya tidak tahu persis penyebabnya. Sebagai seorang ibu, saya merasa berkewajiban menyelamatkan pendidikan dia. Dengan segala daya, saya berjuang untuk keselamatan pendidikannya.

Dari pertengkaran itu tercetus kata-kata suami seolah saya tidak ia harapkan tinggal serumah. Demi kedamaian, saya mengambil langkah untuk keluar dari rumah dan mengontrak sebuah rumah walau masih di kompleks itu. Untuk melangsungkan hidup, saya terpaksa gali lubang tutup lubang, menutupi kebutuhan. Suami pun tahu keuangan kami tidak mencukupi untuk hidup layak.

Suami masih bertanggung jawab penuh pada kebutuhan anak-anak. Ia juga masih tetap rutin berhubungan dengan anak-anak. Saya tidak pernah melarang anak-anak untuk bertemu bapaknya. Dia adalah ayah anak-anak. Walau kami pisah rumah sudah beberapa tahun, belum ada keputusan dari yang berwenang dengan status pernikahan kami. Lagi pula saya tidak mau bercerai, demi anak-anak. Entahlah, suami pun sepikiran atau ia tetap akan menceraikan saya.

Saya meminjam uang ke sana ke mari, kembali gali lubang tutup lubang. Ketika ketahuan suami, ia tersinggung. Pertengkaran kecil terjadi karena peristiwa itu. Saya dinilai wanita yang tidak pandai mengelola keuangan hingga berbuat seperti itu. Saya juga tidak merasa benar atas tindakan itu. Tapi, kepada siapa saya harus meminta dalam keadaan seperti ini? Sementara kami tidak tinggal serumah, tak ada tempat berunding.

Saya tidak merasa benar sendiri. Kejadian ini, mungkin ada kesalahan saya juga, tidak sepenuhnya ada pada suami. Oleh karena itulah, saya sendiri ingin kami saling memaafkan. Saya berpikir untuk kebahagiaan anak-anak, lebih baik kami bersatu kembali dan membangun rumah tangga seperti sediakala. Biarlah godaan itu berlalu ditekan waktu. Lagi pula umur kami sudah sama-sama tua, entah sampai kapan, kita hidup. Hanya Tuhan yang Maha Tahu. Entah harus berbuat apa saya, agar rumah tangga kami bersatu kembali. Ya Tuhan, tolonglah hamba.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Tujuan hidup manusia di dunia ini

Allah telah menciptakan makhluk hidup di muka bumi ini, seperti manusia, hewan, dan tumbuhan. Khususnya manusia yang ada d bumi yang telah menyebar luas dengan berbagai suku, kelompok, adat, dan budaya masing-masing. Awal mulainya kehidupan di bumi muncul, Allah menciptakan tumbuh-tumbuhan dulu yang menyebar ke seluruh belahan dunia. Setelah itu, allah menciptakan hewan-hewan dengan tujuan untuk menciptakan rantai makanan di bumi ini agar seimbang. Kemudian, Allah menciptakan nabi adam, manusia pertama yang mengijak kakinya di bumi ini. Dari jaman nabi adam hingga sekarang ini, sudah mulai banyak keturunan yang menyebar di seluruh kawasan bumi ini. Bumi kita yang injak ini, sudah mulai banyak perubahan dari jaman dulu hingga sekarang. Entah karena perubahan iklim di bumi atau ulah manusia yang merusak alam sekitar, hingga banyak kejadian alam yang muncul. Mungkin karena bumi sudah semakin tua, hingga banyak sekali kejadian alam yang aneh dan mengerikan. Lalu, untuk apakah tu...

Janganlah senang dulu saat merayakan ulang tahun

Merayakan hari ulang tahun sangat menyenangkan apalagi bersama pacar, teman-teman, atau pun saudara. Ulang tahun adalah momen-momen yang membuat orang bahagia, apalagi diberi hadiah ulang tahun oleh orang-orang yang tercinta. Khususnya jika ulang tahun dirayakan bersama pasangan atau pacar, pasti sangat menyenangkan dan bahagia. Begitulah kalau momen spesial acara ulang tahun pada kehidupan manusia di dunia. Tapi, janganlah senang dulu jika merayakan acara ulang tahun. Karena umur manusia semakin bertambah semakin dekat pula dengan kematian. Umur manusia memang ada batasnya, tak tahu kapan ajal menjemput kita, hanya tuhan yang tahu. Semakin bertambah umur manusia semakin tua pula, sedikit-demi sedikit wajah akan keriputan dan semakin tua, itu karena proses penuaan dan metabolisme tubuh. Sering begadang, merokok juga dapat menyebabkan umur semakin pendek. Umur manusia ada tahapannya, mulai dari bayi yang keluar dari perut ibu, masa anak-anak, ABG, masa remaja, dewasa, dan m...

Cerita sedih seorang ingin kuliah tapi terkendala

Tak terkata sedih hati Nona Putri 19 tahun karena ia tidak bisa masuk perguruan tinggi negeri di daerahnya. Padahal, ia sudah berusaha keras belajar agar bisa lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri tersebut. Bukan karena ia tidak pandai, tetapi karena biaya kuliahnya tak terjangkau oleh kedua orangtuanya, sampai cita-citanya terputus di tengah jalan. Ia tidak bisa memaksa karena kasihan kepada ayah ibunya. Sejak kecil, ia selalu rajin belajar. Hasilnya, sejak SD sampai SMA, ia berhasil masuk sekolah negeri. Terakhir, ia menjadi peserta didik salah satu SMA negeri favorit di daerahnya. Alhasil, ia menjadi putri kebanggaan orangtuanya. "Saya mendapat informasi katanya universitas negeri di daerah akan menerima mahasiswa baru dengan beasiswa. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk meraih beasiswa itu, tetapi tidak berhasil. Saya lulus dalam seleksi itu, tetapi tidak termasuk yang mendapat beasiswa," Ayah saya bekerja serabutan, jadi pen...