Siapa menduga hujan akan turun di tengah hari yang panas? Ungkap sebuah kata-kata bijak. Sampiran kepada takdir manusia yang tidak dapat ditolak.
Hati ayah mana yang tidak akan teriris mendengar keluhan anaknya yang menginginkan terus daya untuk bangkit sekalipun. Padahal, di pundak gadis umur 13 tahun bertumpuk cita-cita untuk mendapat pendidikan tinggi demi masa depannya. Ia baru saja duduk di bangku salah satu SLTP negri, tetapi cita-citanya sudah cukup tinggi. Ia ingin membahagiakan kedua orangtuanya dan memberinya kebanggaan.
Tak sekedar keinginan, ia berusaha agar bisa diterima di sekolah negri. Oleh karenanya, ia terus berupaya mendapatkan kesempatan itu. Ketika ia berhasil diterima di sekolah negri, melalui jalur prestasi, tak terkata kebahagiaan yang terpatri dalam jiwanya. Ia segera didaftarkan ke sekolah tersebut. Dari hari ke hari ia menanti untuk mulai belajar di sekolah yang didambakannya itu. Namun, ternyata ia tersandung dalam kendala yang amat berat.
Gadis adalah putri sulung dari keluarga Sabar (37)-nama samaran. Mereka hidup dalam kesederhanaan. Sebagai kepala keluarga, ia mengandalkan keahliannya dalam bidang bangunan untuk menghidupi anak istrinya. Mungkin karena hasil kerjanya yang memuaskan membuat ia tidak pernah menganggur. Selalu ada orang yang membutuhkan tenaganya untuk merenovasi rumah. Oleh karena itulah, walaupun tidak berlebih, ia bisa menghidupi anak istrinya secara layak. Bahkan, anak-anaknya mampu ia sekolahkan. Gadis adalah anak sulung yang pandai dan gigih berusaha.
Namun, hidup manusia di dunia tidak ada yang kekal. Setiap langkahnya diikuti cobaan yang entah kapan akan menyertainya. Tak seorang pun bisa menduga apa yang akan ditemui pada hari esok. Tak ada seorang pun yang mampu melawan takdir. Begitu pula yang dialami keluarga Sabar. Cobaan datang di kala ia sedang membutuhkan uang untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Sama sekali tak ada firasat akan datang cobaan kepadanya. Hari itu ia berangkat kerja dengan semangat prima. Tas berisi peralatan kerja disandangnya. Diantar pandangan istrinya yang setia, ia berjalan tegap. Rumah yang direnovasi sudah mendekati penyelesaian.
Ia akan memasang atap. Namun, apa hendak dikata. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Tiba-tiba sandaran kakinya patah dan ia jatuh dari ketinggian sekian meter. Tubuhnya berdebum menimpa lantai bawah. Tangannya meronta mencari pegangan, tetapi tak ada yang bisa ia raih. Waktu akan bangkit. seluruh anggota tubuhnya ia rasakan sakit sekali. Secara medis, ia dinyatakan mengalami patang tulang. Tangan dan kaki kanan katanya yang patah, setelah ia diperiksa. Ia tidak dapat bangun. Jangankan berjalan, untuk duduk pun dirasakannya sakit sekali. Tangan dan kaki kanannya bahkan tak lagi dapat digerakkan. Setengah badannya ia rasakan lumpuh. Akibatnya, ia hanya bisa terbaring di ranjangnya.
Namun, anak-anak harus tetap makan, minum, dan sekolah. Untuk menutupi kebutuhan makan keluarga, istrinya terpaksa mengambil upah mencuci di rumah tetangga-tetangganya. Kadang agak jauh dari rumahnya. Upah mencuci hanya cukup untuk makan sehari bagi keluarganya. Artinya, kebutuhan lainnya tidak mungkin bisa ia penuhi. Namun, apa boleh buat, istrinya tetap harus berkeliling mencari orang yang mau mengupah membersihkan pakaiannya. Ketika keadaan begitu sulit, sekolah tempat anaknya menuntut ilmu, memohon agar ia segera melunasi uang untuk seragam dll., Rp 1.250.000. Bahkan, ada peringatan bila tidak segera dilunasi, anaknya disarankan ikut sekolah terbuka saja. Mendengar hal itu, anaknya menangis tersedu-sedu.
"Ya tuhan, dari mana saya punya uang sebesar itu? Saat ini, saya dalam keadaan tidak berdaya. Hidup saya pun tergantung istri. Penghasilan dia hanya cukup untuk makan. Saya mengerti peraturan sekolah. Lagipula banyak anak lain yang ingin bersekolah di sana. Tetapi saya juga tak tega melihat anak menangis. Katanya, saya ingin sekolah, Pak. Saya nyaris putus asa melihat keadaan seperti ini. Akan tetapi, saya tak henti-henti memohon pertolongan Tuhan. Hanya kepada-Nya hamba memohon," katanya mengakhiri curahan hatinya.
Kisah ini dikutip dari koran pikiran-rakyat.

Komentar
Posting Komentar