Usia senja bagi umumnya manusia adalah waktu untuk menikmati hidup tenang, santai, dan dimanja anak cucu. Sebagian besar waktunya bisa diisi dengan ibadah, untuk semakin mendekatkan diri kepada Yang Maha Pencipta. Namun, tidak demikian bagi Nenek Rantani berumur 75 tahun, yang masih menggeluti pekerjaan. Yang ditulis ulang dari curahan hati seorang nenek tersebut.
"Saya masih harus berjuang mencari uang untuk makan," ujarnya memulai curahan hatinya." Saya tidak mau meminta-minta dalam mencari penyambung hidup. Saya memang memiliki anak, tetapi kehidupan mereka juga sangat kekurangan. Untuk menghidupi keluarga mereka sendiri pun sudah sangat seret. Tak tega rasanya hati saya untuk meminta.
Mereka hidup dari mengais upah sebagai kuli. Itu pun tidak setiap hari. Penghasilannya tidak menentu. Kalau pun ada yang bekerja, hanya rendahan. Untuk menghidupi anak-anaknya, ia juga kepayahan. Saya tak tega meminta, melihat kesusahan mereka. Saya juga merasa mereka berupaya untuk membantu ibunya, tetapi dengan kemampuan yang amat terbatas. Untunglah hampir setiap hari ada saja tetangga yang memberi makanan untuk saya. Kadang beras, sembako, atau lauk pauk. Saya selalu menerima dengan penuh rasa terima kasih. Kebaikan para tetangga selalu saya ingat.
Setiap hari saya mengangkut sampah tetangga, lalu dibuang ke tempat pembuangan akhir di ujung jalan. Saya berterima kasih kepada para tetangga yang selalu menyimpan sampahnya secara apik dalam kresek. Hingga saya bisa dengan mudah mengambilnya. Saya terima berapa pun pengasih tetangga-tetangga. Bagi saya besar atau kecil itu adalah rezeki yang harus disyukuri. Yang utama bagi saya, uang upah membuang sampah itu membawa berkah.
Penglihatan saya sudah kurang jelas. Padahal saya tidak bisa berhenti bekerja. Setiap hari seusai melaksanakan ibadah, saya mulai menyusuri rumah demi rumah mengambil sampah. Saya gunakan uang pengasih dari para tetangga untuk makan, membayar sewa rumah, membayar listrik, dan membeli air minum. Saya menyewa rumah kecil yang keadaannya sudah memprihatinkan. Bila hujan deras turun, bocor di mana-mana. Mungkin gentingnya sudah banyak yang rusak. Tetapi saya tidak bisa pindah. Rumah itu sudah saya huni selama 25 tahun. Tak ada lagi rumah sewaan yang lebih murah. Bagaimana pun keadaan saya tetap tinggal di sana. Rasanya hati saya sudah menyatu.
Saya mengankut sampah menggunakan pedati kecil beroda empat. Namun sekarang roda pedati itu juga sudah rusak. Sudah 15 tahun lamanya roda itu menemani perjuangan saya. Banyak baut yang copot, hingga jalannya terseok-seok. Ingin sekali saya membeli roda pedati kecil yang baru. Namun harganya sampai satu juta rupiah. Suatu harga yang tidak mungkin bisa saya jangkau. Roda yang baru itu terbuat dari besi ringan, jadi tidak terlalu berat didorong. Apalagi didorong oleh saya yang sudah kurang tenaga. Apa boleh buat, pedati itu tetap saya pakai. Kalau tidak mengangkut sampah, dari mana saya makan?
Roda yang saya pakai sekarang menggunakan selot di ujungnya. Jadi saya tidak usah membuang sampah itu, cukup dengan membuka selotnya. Namun karena saya sudah tua, cukup lelah juga mengerjakannya. Apalagi sekarang penglihatan saya mulai bermasalah. Pandangan saya sudah sering kabur. Apalagi bila hari mulai gelap. Saya nyaris tidak bisa melihat jelas. Ingin sekali saya berobat, tetapi dari mana uangnya? Saya tidak punya kartu gratis atau kartu berobat lainnya. Saya hanya menunggu uluran tangan dari tetangga. Akan tetapi kalau terus-terusan begitu, saya juga malu. Apalagi kalau sampai meminta. Lebih baik berdiam saja, bila sudah kepepet," katanya.
Ada yang menyarankan. Nenek lebih baik berjualan. Mungkin bila Nenek seusia dia, berjualan makanan gorengan di depan rumah, tidak usah berjalan lagi. Tenaga dia sudah berkurang, jalan pun mulai terseok-seok. Kalau berdagang, mungkin ia hanya berdiri dan melayani pembeli. Tetapi dari mana uang untuk modalnya? Ini yang menjadi masalahnya.
"Semua yang saya butuhkan tertumbuk pada biaya tidak murah. Saya ingin berobat mata, saya ingin membeli roda, saya ingin berdagang. Semuanya tertumbuk pada biaya. Padahal untuk makan pun sudah amat sangat seretnya. Ya Tuhan tolonglah hamba-Mu ini," ujarnya mengakhiri curahan hatinya.

Komentar
Posting Komentar