Kalau kamu salat tarawihnya main-main, lihat saja bedug di pojok masjid itu. Bedug akan bergoyang-goyang dan menggelinding mengejar anak yang salatnya main-main!" ucap Kak Meta, kakakku dengan nada kesal karena aku tidak serius mengikuti salat tarawih. Sejurus kemudian aku mulai memperhatikan bedug besar yang tergantung di pojok masjid." Begitulah apa yang diucapkan Kak Meta?" bisiku dalam hati.
Keesokan harinya aku masih saja tidak serius mengikuti salat tarawih. Aku selalu lebih asyik ngobrol dengan teman-teman sebayaku di masjid, sambil sesekali tertawa terkikik-kikik membahas kejadian-kejadian yang lucu. Melihat kelakuanku, lagi-lagi Kak Meta menunjuk ke arah bedug sambil memicingkan matanya dan mengancam," Awas".
Malam ini seperti biasanya, aku ikut Kak Meta ke masjid untuk salat tarawih. Walaupun di rumah sudah berulangkali Kak Meta mengingatkanku untuk tidak main-main, tetapi karena ajakan mengobrol dari teman-temanku terasa mengasyikkan, aku sering lupa akan ancaman Kak Meta. Namun, pada malam ini, saat aku asyik mengobrol, tiba-tiba sudut mataku menangkap bedug di pojok masjid mulai bergoyang-goyang. Aku lalu mengajak teman yang lain untuk lebih seksama mengamati bedug tersebut. Ternyata memang betul!. Makin lama bedug itu makin bergoyang kencang. Melihat itu, aku dan teman-teman langsung berlari ke dalam masjid lalu berusaha mengikuti salat tarawih dengan serius. Kami takut ancaman Kak Meta akan terjadi.
Keesokan harinya, menjelang salat tarawih di masjid, aku mengingatkan teman-temanku untuk serius mengikuti salat tarawih agar tidak terjadi bedug bergoyang lagi. Kami pun sepakat tidak akan main-main. Namun, saat usai salat tarawih, kami lihat bedug di pojok masjid masih juga bergoyang-goyang, sesekali bergoyang cepat, sesekali bergoyang lambat. Aku dan teman-teman semakin takut dan merinding jika bedug tersebut akan jatuh menggelinding mengejar kami yang sering main-main saat salat tarawih.
"Kak Meta, aku dan teman-teman sudah tidak main-main lagi saat salat tarawih, tapi kenapa bedug tersebut terus bergoyang seolah-olah akan jatuh dan menggelinding?" ujarku panik mengadu pada kakakku. Kak Meta lalu melihat ke arah bedug yang masih bergoyang-goyang tersebut. Dengan berani, Kak Meta lalu menghampiri bedug tersebut untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sementara itu, aku dan teman-teman masih ketakutan, menunggu Kak Meta dari jarak yang agak jauh. Beberapa menit kemudian terdengar suara tertawa Kak Meta yang renyah disamping bedug. Kak Meta sepertinya tertawa puas melihat kami yang ketakutan. "Ada apa Kak?" teriakku penasaran.
"Sini, semuanya lihat ke dalam bedug ini agar tahu kenapa bedug ini jadi sering bergoyang!" ajak Kak Meta pada kami semua. Semula kami takut. Namun, karena Kak Meta terus memanggil kami, akhirnya kami pun memberanikan diri mendekati bedug tersebut. Ola.. la... ternyata saat kami melengok ke dalam lubang bedug tersebut, di dalamnya ada kucing bersama kelima anak-anaknya yang baru lahir. Rupanya induk kucing merasa lubang bedug bisa dijadikan tempat yang aman untuk melahirkan anak-anaknya. Pantas saja bedug itu jadi sering bergoyang, karena ada induk kucing dan anak-anaknya yang kerap bergerak ke sana ke mari. Setelah semuanya jelas, aku dan teman-teman pun ikut tertawa dengan Kak Meta yang merasa puas karena sudah berhasil membuat kami takut hingga tidak main-main lagi saat mengikuti salat tarawih.

Komentar
Posting Komentar