Hidup manusia tidak akan lepas dari aktivitas berpikir. Ketika seseorang sudah tidak bisa berpikir lagi maka dia telah hilang status kemanusiaannya. Ciri manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya adalah kemampuan berpikirnya itu. Kemampuan berpikir manusia adalah amanat Allah yang diberikan kepada manusia setelah seluruh alam raya menolak untuk menerimanya karena tidak sanggup memikul beban akibatnya. Allah berfirman, "Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikulah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh." (QS 33:72).
Kemampuan itu diciptakan Allah kepada manusia tidak lain agar manusia mampu memperhatikan segala peristiwa, baik peristiwa alam maupun sosial. Bahkan memperhatikan apa yang terjadi pada diri kita, orang lain, dan seluruh peristiwa-peristiwa lainnya, baik tang dialaminya sendiri maupun yang dilihat dan didengar. Sungguh dalam setiap peristiwa selalu ada pesan-pesan Tuhan. Tentu hal ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang berpikir. Bahkan, Allah memuji mereka yang berjiwa terbuka, suka mendengarkan pendapat orang lain, kemudian mengikuti mana yang terbaik dari pendapat itu, yaitu setelah melalui kegiatan berpikir dan pemeriksaan serta pemahaman yang kritis serta teliti. Dalam Alquran mereka disebut sebagai orang yang mendapatkan petunjuk Allah dan orang-orang yang berakal budi. (QS 39:18).
Kita pun diajarkan untuk tidak sekedar berpikir tetapi belajar untuk berpikir ilmiah. Suatu proses berpikir yang diawali dengan pengamatan, menghimpun data, menarik kesimpulan, dan terakhir memverifikasi kembali kebenaran kesimpulan yang telah diambil. Hanya melalui proses berpikir yang sangat kuat pula kemudian melahirkan berbagai ilmu yang berguna bagi kepentingan umat manusia.
Berpikir adalah bermain akal, bukan main perasaan. Oleh karena itu, pasti kita mengalami kesalahan berpikir jika bukan akal yang bekerja melainkan perasaan. Berpikir bukan sedang mengkhayal yang tak jelas arah, melainkan berhitung menuju kepastian. Berpikir adalah proses agar kita bisa meminimalkan kesalahan, bukan memaksimalkan kesalahan. Berpikir adalah upaya untuk menambah keuntungan sekaligus mengurangi resiko kerugian. Berpikir itu harus logis dan rasional. Jika tidak logis dan rasional, berarti kita sedang mengalami apa yang disebut pakar psikologi yakni "kesalahan berpikir". Kesalahan berpikir tidak saja mencelakakan dirinya melainkan pula orang lain. Sesungguhnya aktivitas berpikir tidak lain agar kita bisa mengetahui hakikat dari segala peristiwa yang kita alami, lihat, dan dengar, hingga kemudian kita pun bisa memahami hakekat suatu kebenaran.
Islam adalah agama untuk orang yang berpikir. Begitu pun seluruh aktivitas ibadah dalam islam hanya wajib bagi mereka yang bisa berpikir. Orang yang sedang mabuk minuman tidak boleh sholat sebab pikirannya sedang terganggu (QS 4:43). Artinya, ajaran islam sangat menjunjung tinggi potensial akal. Dalam hadis lain menyebutkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, "Tiada agama bagi orang yang tidak berakal." Bahkan bagi mereka yang menggunakan pikirannya (tafakur) jauh lebih baik daripada beribadah selama satu tahun. Alquran pun memuji dan menempatkan orang-orang berilmu di tempat yang tinggi derajatnya (QS 58:11), dan pasti hanya bisa diraih oleh orang yang menggunakan pikirannya secara maksimal.
Kita tidak akan pernah tahu skenario pikiran yang ada di kepala orang lain. Begitu pun sebaliknya, orang lain tidak akan pernah tahu apa yang sedang kita pikirkan. Jika yang ada dalam pikiran itu adalah skenario buruk, kita sedang menuju ke arah ketidakbahagiaan. Menurut buku Life's Missing Instruction Manual The Guidebook, kunci bahagia adalah membuang skenario buruk yang ada di kepala kita. Baik skenario buruk pada diri sendiri, terlebih-lebih skenario buruk yang bisa merugikan orang lain.
Semua manusia memiliki kemampuan berpikir. Namun, tidak semua manusia mampu berpikir benar. Padahal, berpikir benar adalah cara untuk bahagia. Berbahagialah kepada siapapun yang bisa berpikir benar. Kalaupun tindakannya belum benar, yang terpenting berpikir benar terlebih dahulu. Berpikir benar hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki kemurnian hati.
Berpikir benar akan membawa kepada peningkatan kualitas kemanusiaan kita, menuju rida Allah. Berpikir benar adalah berpikir bukan untuk aku, tetapi untuk kamu dan kalian. Pasalnya, ada juga yang merasa berpikir benar, meskipun mungkin orang lain tidak diuntungkan, bahkan dirugikan. Jika itu yang dilakukan, sesungguhnya kita sedang berpikir salah. Hanya dengan berpikir benar maka kita bisa melakukan kebaikan, yang kelak membuat kita bisa berjumpa dengan-Nya. Wallahualam.

Komentar
Posting Komentar